Senin, 24 September 2018

laporan praktikum pengelolaan limbah pembuatan arang aktif

LAPORAN PRAKTIKUM PENGELOLAAN LIMBAH
PEMBUATAN ARANG AKTIF
DOSEN PENGGAMPU : Ir INDRIANI M.Si

DISUSUN OLEH :
ARIS FITRIYADI                                                                J1A1120
SUARIA RISONA SIPAYUNG                                         J1A115009
MELISA PUSPITASARI                                                    J1A115017
ZAMIRATUL AINI                                                                         J1A115067
ELIA VERONIKA SINAGA                                              J1A115083
AVIL ROZENDO                                                                 J1A115087

TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
            Pemanfaatan buah kelapa umumnya hanya daging buahnya saja untuk dijadikan kopra, minyak dan santan untuk keperluan rumah tangga, sedangkan hasil sampingnya seperti tempurung kelapa belum begitu banyak dimanfaatkan. Penggunaan tempurung kelapa sebagian kecil sebagai bahan bakar untuk keperluan rumah tangga, pengasapan, kopra, dan lain-lain.
            Salah satu produk yang bernilai ekonomi yang dibuat dari tempurung kelapa adalah arang aktif. Arang aktif adalah arang yang diproses sedemikian rupa sehingga mempunyai daya serap/ adsorpsi yang tinggi terhadap bahan yang bebentuk larutan atau uap.
            Dalam pembuatan arang aktif belum banyak yang bisa membuatnya, padahal potensi bahan baku dan penggunaan arang aktif ini cukup besar dan banyak peminatnya dipasaran. Oleh karena itu, perlu adanya praktikum tentang pembuatan arang aktif agar mahasiswa mengetahui tata cara pembuatan arang aktif.
1.2. Tujuan
            Untuk mengetahui cara atau proses pembuatan arang aktif dari arang tempurung kelapa.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tempurung Kelapa
            Tempurung kelapa merupakan salah satu bagian dari produk pertanian yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi yang dapat dijadikan sebagai basis usaha. Pemanfaatan tempurung kelapa secara garis besar dapat dikategorikan berdasarkan kandungan zat kimia, kandungan energi, dan sifat-sifat fisik nya (Allorerung, dkk., 1998).
            Tempurung kelapa merupakan bagian buah kelapa yang fungsinya secara biologis adalah pelindung inti buah dan terletak di bagian dalam serabut dengan ketebalan berkisar antara 3-6 mm. Tempurung kelapa yang memiliki kualitas yang baik yaitu tempurung kelapa tua dan kering ditunjukkan dengan warna gelap kecoklatan. Tempurung kelapa dikategorikan seagi kayu keras tetapi mempunyai lignin yang tinggi dan kadar selulosa lebih rendah dengan kadar air sekitar 6-9%. Secara kimiawi tempurung kelapa memiliki komposisi yang sama dengan kayu yaitu tersusun dari lignin, selulosa dan hemiselulosa (Rifki, 2016).
            Tempurng kelapa memiliki kadar air mencapai 8% jika dihitung berdasarkan berat kering atau setara 12% berat per butir kelapa. Untuk memaksimalkan nilai ekonomisnya maka pengolahan tempurung kelapa harus didasarkan pada proses pengolahan yang memaksimalkan sifat-sifat fisiknya yang khas (Allorerung, dkk., 1998).
2.2. arang aktif
            Arang aktif adalah bahan hasil proses porilisasi arang pada suhu 60-90 °C. Selama ini bahan arang aktif yang digunakan berasal dari limbah kayu dan bambu. Bahan lainnnya yang dapat digunakan adalah limbah pertanian antara lain sekam padi, jerami padi, tongkol jagung, batang jagung, serabut kelapa, tempurung kelapa dan lain-lain (Tahir, 1992).
            Karbon aktif merupakan karbon amorf dari pelat-pelat datar yang tersusun oleh atom-atom C yang terikat secara kovalen dalam suatu kisi heksagonal datar dengan satu atom C pada setiap sudutnya yang luas permukaan nya antara 300  hingga 3500  ini berhubungan dengan struktur pori internal sehingga mempunyai sifat adsorben (Taryana, 2002).
            Proses aktifasi merupakan hal yang paling penting diperhatikan disamping bahan baku yang digunakan. Yang dimaksud dengan aktifasi adalah suatu perlakuan terhadap arang yang bertujuan untuk memperbesar pori yaitu dengan memecahkan ikatan hidrokarbon atau mengoksidasikan molekul-molekul permukaan sehingga arang mengalami perubahan sifat, baik fisik maupun kimia yaitu luas permukaannya bertambah beser dan berpengaruh terhadap daya adsorpsinya (Ajayi dan olawale, 2009).
2.3. Kapur tohor
            Kapur tohor merupakan hasil endapan kerangka binatang yang hidup dilautan dan berlangsung hingga jutaan tahun. Oleh karena proses geologis terjadilah pergerakan kulit bumi da endapan ini terangkat keatas permukaan laut. untuk tujuan stabilitas tanah, berbentuk kapur yang banyak digunakan adalah kapur tohor (CaO) dan kapur hidrasi atau kapur padam (Ca(OH)2). Sedangkan kapur karbonat (CaCO2) yang merupakan bentuk kapur alamiah tidak dapat dipergunakan langsung sebagai bahan stabilitas. Bahan kapur tohor dihasilkan dari pembakaran batu kapur alam dalam suatu tungku khusus pembakaran dengan suhu tinggi diperlukan sampai karbon dioksida teruruai (Melisa, dkk., 2017).
            Salah satu kegunaan kapur tohor yang umum adalah menurunkan kadar fosfat. Penggunaan larutan kapur sebagai bahan kougulan dengan pertimbangan bahwa larutan kapur mudah didapatkan, biaya murah, dan merupakan batuan alam sehingga relatif aman bagi lingkungan (Wiwin, dkk., 2016).







BAB III
METODE PENILITIAN

3.1. Waktu Dan Tempat
            Praktikum dilaksanakan pada hari senin 12 maret 2018, yang bertempatan di laboratorium pengolahan fakultas teknologi pertanian, universitas jambi.

3.2. Alat Dan Bahan
            Akat yang digunakan pada praktikum ini yaitu : baskom, pengaduk, pisau, timbangan dan oven. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu tempurung kelapa, kapur tohor, dan aquadest.

3.3. Prosedur Kerja
            Disiapkan arang tempurung kelapa sebanyak 100 gr, kemudian dihancurkan arang tempurng kelapa menjadi bongkahan-bingkahan kecil (granula). Granula dicuci dan ditiriskan. Kemudian disiapkan larutan kapur tohor (Ca(OH)2) dengan mencampurkan 1 bagian tohor dengan 3 bagian air. Lalu diaduk selama 15 menit dan dilakukan pemisahan sehingga cairan kapur tohor terpisah dengan endapannya. Setelah itu, granula arang tempurung kelapa yang telah dibersikan dimasukkan kedalam larutan kapur tohor sampai semua arang terendam. Campuran direbus selama 60 menit pada suhu ±100 °C. Ditiriskan hingga arang terpisah dengan air dan kotorannya. Kemudian dicuci kembali dengan air mengalir dan ditiriskan. Kemudian arang dioven pada suhu ±125 °C selama 15 meni. Arang aktif siap digunakan.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil pengamatan
            Tabel 1. Bahan pembuatan arang aktif
No.
Bahan-bahan
Jumlah
1.
Arang tempurung
100 gr
2.
Kapur tohor
50 gr
3.
Air
1350 ml

4.2. Pembahasan
            Arang aktif merupakan arang yang mempunyai daya serap lebih dibandingkan dengan arang biasa karena mengandung karbon sekitar 85-95%. Arang aktif sendiri dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon dengan pemanasan suhu tinggi. Setiap arang bisa dijadikan arang aktif, namun yang membedakan adalah luas permukaan pori-pori arang yang mempengaruhi daya serap arang tersebut. Arang yang baik atau bagus digunakan adalah arang yang mengandung selulosa dan hemiselulosa pada arang berpotensi untuk digunakan sebagai bahan penyerap.
            Pada praktikum ini dibuat arang aktif dengan bahan baku arang tempurung kelapa ditambah dengan bahan pengaktivasi yaitu kapur tohor. Kapur tohor berfungsi untuk membantu mengaktifkan arang, karena kapur tohor dapat mengeluarkan panas pada saat bereaksi dengan air. Proses aktifasi merupakan hal yang sangat penting diperhatikan disamping bahan baku yang digunakan. Yang dimaksud dengan aktifasi adalah suatu perlakuan yang bertujuan untuk memperbesar pori yaitu dengan cara memecahkan ikatan hidrokarbon atau oksidasi molekul-molekul permukaan sehingga arang mengalami perubahan sifat, baik fisika maupun kimia, yaitu permukaannya bertambah besar dan berpengaruh terhadap daya adsorbsi.
            Pada prosedur pembuatan larutan kapur tohor seharus nya perbandingan kapur tohor dan air adalah 1:3 namun larutan yang dihasilkan sangatlah pekat dan ketika larutan dipanaskan, proses pemanasan berlangsung sangat cepat, sehingga penambahan air diberikan lebih banyak dari prosedurnya. Larutan kapur tohor yang dihasilkan diendapkan terlebih dahulu, kemudian diambil bagian atasnya saja (yang berwarna bening) sebanyak yang diperlukan sampai arang tempurung kelapa terendam seluruhnya. Selanjutnya campuran tersebut dipanaskan (suhu 100°C) selama 1 jam, setelah itu ditiriskan dan dioven pada suhu 125°C selama 75 menit.
            Dari percobaan diatas diperoleh arang aktif tempurung kelapa. Namun arang aktif yang dihasilkan tidak dilakukan analisis lebih lanjut, seperti mengaplikasikannya pada proses penjernihan air, pemurnian gas, industri minuman, farmasi, katalisator, dan berbagi macam penggunaan lain. Arang aktif biasanya dibagi atas 2 tipe, yaitu arang aktif sebagai pemucat dan sebagai penyerap uap.















BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
            Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa proses pembuatan arang aktif dari tempurung kelapa dapat memanfaatkan kapur tohor sebagai bahan pengkatifasinya. Namun arang aktif yang diperoleh tidak diketahui kualitasnya karena arang aktif yang dihasilkan tidak dilakukan pengujian lebih lanjut.
5.2. Saran
            Sebaik nya sebelum praktikum dilaksanakan, praktikan sudah memahami dengan benar setiap prosedur yang akan dilakasanakan agar memperkecil kejadian yang dapat membahayakan praktikan.









DAFTAR PUSTAKA
Ajayi dan olawale. 2009. Identifikasi asap cair dari berbagai jenis kayu dan tempurung kelapa. Gramedia pustaka utama : jakarta.
Allorerung, dkk., 1998. Kemungkinan pengembangan pengolahan bahan kelapa     secara terpadu skala pedesaan. Prosiding konferensi nasional kelapa IV. Bandar lampung.
Melisa, H, dkk., 2017. Pengaruh Penambahan Kapur Terhadap Kuat Geser Tanah Lempung. Tekno, Vol. 15, No 67
Rifki, H.K. 2016. Pembuatan Dan Karakterisasi Karbon Aktif Dari Tempurung      Kelapa (Coco Nucifera L) Sebagai Adsorben Zat Warna Metilen Biru. Skirpsi FMIPA. Universitas Lampung.
Tahir, I. 1992. Pengambilan asap cair secara destilasi kering pada proses pembuatan karbon aktif dari tempurung kelapa. Skripsi FMIPA UGM. Yogyakarta.
Tarayana, M. 2002. Arang aktif ( pengenalan dan proses pembuatannya).    Universitas sumatera utara. Sumatera utara.
Wiwin, dkk., 2016. Efektifitas Larutan Kapur Dalam Menurunkan Kadar Fosfat    Pada Limbah Cair RSUD Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Volume 4. Nomor 3.









                                                           









Tidak ada komentar:

Posting Komentar